Kuasa Hukum Rizieq Shihab: Jaksa Terlalu ‘Baper’ dengan Kata-kata Pandir

Tim kuasa hukum Rizieq Shihab komentari tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap eksepsi atau keberatan yang disampaikan dalam sidang dugaan tindak pidana karantina kesehatan sarat emosional. Menurut mereka, tanggapan JPU terkait eksepsi klien mereka dalam perkara kerumunan warga di Petamburan, Jakarta Pusat banyak membicarakan keluh kesah. "Tadi kebanyakan Jaksa malah melempar bahwa. Banyak isinya baper (bawa perasaan) lah, tersinggung dengan kata kata pandir, dungu, dan dzalim, dan semisalnya," kata Anggota tim kuasa hukum Rizieq Shihab, Aziz Yanuar, di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (30/3/2021).

Kata pandir, dungu dimaksud yang dilontarkan Rizieq Shihab kepada Jaksa pada sidang beragendakan penyampaian eksepsi atau keberatan atas dakwaan JPU Jumat (26/3/2021) sebelumnya. Tim kuasa hukum berpendapat eksepsi sudah membantah isi dakwaan bahwa Rizieq Shihab menghasut simpatisan menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan acara pernikahan. Menurutnya perkara dugaan tindak pidana karantina kesehatan kasus Petamburan harusnya batal karena Rizieq Shihab sudah membayar denda administrasi kepada Pemprov DKI sebesar Rp 50 juta.

"Sebenarnya kita balik lagi sanksi administrasi sudah kita jalani, tapi jaksa berpendapat lain dengan argumen mereka. Kami hanya konsen ke keputusan Mahkamah Konstitusi terkait dengan penggabungan pasal yang memang jadi pemberatan kami di eksepsi," ujarnya. Aziz menuturkan bila diberi kesempatan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur pihaknya bakal menanggapi tanggapan JPU atas eksepsi yang disampaikan pada sidang hari ini. Khususnya terkait penggunaan pasal dalam kasus kerumunan warga di Petamburan yang menurutnya menyalahi keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sehingga dakwaan tidak sah.

"Kita akan sampaikan sedikit tanggapan dari Habib dan kami (tim kuasa hukum), sedikit saja. Kemudian kami ikuti putusan selanya pada Selasa pekan depan," tuturnya. Sebelumnya dalam JPU membantah bahwa pernyataan Rizieq Shihab yang menyebut bahwa dakwaan terhadap eks pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu fitnah dan tidak berdasar fakta. JPU menyatakan dakwaan mereka dalam kasus kerumunan Petamburan mengacu fakta dan alat bukti sesuai penyidikan Bareskrim Polri dan sudah diperiksa sebelum berkas dilimpah ke Pengadilan.

JPU menyebut eksepsi yang disampaikan Rizieq Shihab pada sidang Jumat (26/3/2021) hanya sekedar argumen yang disangkut pautkan dengan ayat suci Al Qur'an dan tidak berdasar hukum. "Keberatan terdakwa tidaklah termasuk bagian dari dalil hukum yang berlaku. Melainkan hanya bersifat argumen terdakwa menggunakan ayat ayat suci Al Qur'an dan hadis Rasulullah SAW yang tidak menjadi padanan dalam penerapan pidana umum di Indonesia," tuturnya. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyinggung etika eks pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (30/3/2021).

Dalam sidang agenda tanggapan jaksa atas eksepsi atau pembelaan Rizieq Shihab, jaksa mengatakan ucapan Rizieq yang minta polisi dan jaksa bertobat sebelum diazab adalah pernyataan dramatisir dengan tujuan membentuk opini publik semata. Rizieq dalam eksepsi yang dibacakan pada Jumat (26/3) kemarin menilai dakwaan jaksa keliru karena mempermasalahkan undangan keagamaan dianggap sebagai penghasutan. "Eksepsi terdakwa tersebut terlalu berlebih lebihan dan mendramatisir, suatu keadaan yang bertujuan menciptakan opini dengan terdakwa bersumpah bahwa manusia tidak beragama atau anti agama yang memfitnah undangan agama sebagai hasutan kejahatan," kata jaksa membaca tanggapan atas eksepsi Rizieq, di persidangan.

Jaksa mengatakan Rizieq Shihab yang kerap mengaku sebagai imam besar sebuah organisasi Islam dan punya banyak pengikut, tidak semestinya mengeluarkan kata kata layaknya orang tak paham etika. "Seharusnya sebagai orang yang jadi panutan, tidaklah menyimpulkan hasutan yang dilakukan terdakwa atas kegiatan pernikahan anaknya sekaligus pelaksanaan maulid Nabi Muhammad SAW, tidak semestinya ada kata kata pada akhir eksepsi di halaman 7 berbunyi 'kepolisian dan kejaksaan segera bertaubat sebelum kena azab Allah SWT', inilah contoh kata kata yang tidak perlu dipertontonkan sebagai orang yang paham etika," ucap jaksa. Dalam sidang agenda pembacaan eksepsi yang digelar pada Jumat (26/3) kemarin, Rizieq menyerukan polisi dan jaksa segera bertobat.

Rizieq dalam eksepsinya menyatakan cuma manusia tidak beragama atau anti agama yang menganggap undangan beribadah sebagai sebuah bentuk penghasutan. "Demi Allah, saya bersumpah bahwa hanya manusia tidak beragama atau anti agama yang memfitnah undangan ibadah sebagai hasutan kejahatan. Karenanya, melalui sidang ini saya serukan kepada polisi dan jaksa, segera bertobat kepada Allah SWT sebelum kalian terkena azab Allah," kata Rizieq.

Leave a Reply

Your email address will not be published.